Selasa, 09 Desember 2008

Sejarah dan Keraton Cirebon

Wisata di Cirebon ada baiknya diawali dengan history. Special places yang dapat mengungkapkan historical kota ini ada di Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, dan Keraton Kacirebonan. The three palace atau Tiga Keraton di Cirebon, merupakan warisan sejarah yang hingga kini masih terasa keberadaannya. Seperti halnya di Yogya dan Solo yang merupakan daerah kesultanan untuk wilayah Jawa Tengah, maka untuk wilayah Jawa bagian barat Cirebon adalah daerah kesultanan yang pada masanya cukup diperhitungkan. Lokasi Keraton Kanoman dan Kasepuhan seperti halnya istana kerajaan di Nusantara, selalu berhadapan dengan alun-alun dan bersebelahan dengan Masjid, keduanya adalah perpaduan yang tak terpisahkan dari wilayah keraton. Keraton Kacirebonan tak demikian halnya. Bangunan Keraton Kacirebonan agak berbeda dengan kedua 'saudaranya'. Arsitekturnya pun bergaya Belanda. (Masjid yang ada lebih tepat disebut mushola kalee...alun-alun yang dimaksud juga cuma sekedar halaman keraton yang dibatasi tembok putih dengan bangunan utama). Yeah....konon memang bangunan ini diperuntukkan Pemerintahan Hindia Belanda bagi Pangeran Raja Kanoman yang gigih melawannya. (Alih-alih menurut pada pemerintah Hindia Belanda, sang Pangeran malah tetap ngotot melawannya yang diperlihatkan dengan sikap tak mau menerima gaji dari pemerintah Hindia Belanda hingga wafatnya. Belanda marah tuh, kerajaan Kacirebonan di'anaktiri'kan, meskipun penerusnya ada, tapi gelar bagi keraton ini diturunkan dan sultan-sultan berikutnya dicuekin, begitu pula harta warisan isi keraton, pada raib entah kemana. Ehm, begiciuu kata sejarah...). Akibatnya hanya di Kanoman dan Kasepuhan adat dan tradisi kesultanan yang masih bertahan. Salah satunya adalah tradisi Sekaten pada setiap peringatan hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Kanoman dan Kasepuhan menjadi pusat keramaian warga Cirebon, dimana pada malam hari Maulid pihak keraton menggelar upacara pencucian benda-benda pusaka keraton. (Alamaakkk...pada acara ini, keraton tak cuma disatroni 'wong Cerbon', aku juga bingung, entah dari pelosok mana orang-orang yang berdesakan dan berebutan memegang Pusaka Keraton yang dikeluarkan dari persemayamannya untuk dicuci. Konon siapa yang berhasil memegangnya akan mendapat berkah....). Siapa pendiri Cirebon? Syech Syarif Hidayatullah, atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati adalah tokoh utama pendiri atau founding father Cirebon. Story teller nya telah banyak dibuat di beberapa blog dan web site. Yang ingin aku share adalah tentang keberadaan komplek makam Sunan Gunung Jati. Terletak sekitar 10 km arah barat kota Cirebon, komplek ini kerap dipadati pengunjung juga dari luar Cirebon. Uniknya, meski Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari sembilan wali penyebar Islam di Jawa, makamnya tak hanya disambangi sebagai tempat ziarah umat muslim dan pribumi. Etnis Tionghoa juga mengkeramati komplek pemakaman ini karena Sunan Gunung Jati menikahi putri Ong Tien dari jazirah China, yang juga dimakamkan di komplek ini. Asyik juga ceritanya mengapa Sunan menikahi Putri Ong Tien. Ah...mending dateng aja deh ke sini, karena lokasinya pun dilewati jalur para pemudik, persis di pinggir jalanan pantura. Di seberang komplek makam berdiri bukit yang tepat terletak di pinggir Laut Jawa dimana separuh pantai Cirebon juga bisa terlihat dari puncak bukit ini. Dan di bukit ini guru Sunan Gunung Jati, Syech Datuk Kahfi dimakamkan. Beliau berasal dari Baghdad yang datang dengan 22 orang pengikutnya. Naahhh...mulai asyik kan baca ulasan ini? Sempatkan mampir bila melewati jalan ini, tapi kudu siap ama receh yang banyak. Pasalnya sekitar area pemakaman juga dipenuhi baik anak-anak maupun orang tua yang mengemis dan kadang akan membuntuti langkah para pengunjung. Tak perlu khawatir, tetaplah bersikap tenang.....

Tidak ada komentar: