Tampilkan postingan dengan label ciayumajakuning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ciayumajakuning. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Februari 2016
Pedesan Entog
Pedesan Entog. Ini adalah kuliner khas dari Indramayu. Seperti rica-rica dan sesuai namanya, rasa masakannya ya pasti pedas. Bahan dasarnya boleh daging entog/mentok atau daging bebek.
Resepnya cukup mudah dan gampang dibuat dengan bumbu yang digunakan adalah kemiri, kunyit, laos, daun sereh,ketumbar, jahe, bawang merah, putih, daun jeruk, kayu manis, cabe, kecap, garam, air. Sederhana kan bumbu-bumbunya ? Cara membuatnya juga cukup mudah meskipun agak lama dalam proses perebusannya. Setelah dibersihkan, daging entog dipotong-potong sesuai selera, dan dilumuri perasan jeruk nipis, haluskan seluruh bumbu lalu tumis. Campurkan air secukupnya dan terakhir masukkan potongan daging entog. Rebus selama lebih kurang 2 jam, jaga airnya jangan sampai kering. Praktis!
Jika anda memasuki daerah plered Kabupaten Cirebon, kuliner ini cukup mudah didapat. Bagi yang gemar daging bebek, mampir deh, enak.....
Jumat, 03 September 2010
Jalur Alternatif ke Cirebon dan Jawa Tengah
Tol Cikampek - Sadang - Kalijati - Subang-Karangbungur-Cikamurang/Kertajati-Kadipaten-Palimanan-Plumbon-Cirebon
Kondisi jalanan masih ada sedikit perbaikan tapi tetap dapat dilewati kendaraan roda empat. Dengan pemandangan perkebunan teh yang menyegarkan rute yang agak jauh ini rasanya tak terlalu melelahkan.
2. Jalur Alternatif dari Cirebon Menuju Jawa Tengah Disarankan sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah, anda beristirahat dulu di Cirebon...
ada banyak pilihan tempat ngaso yang asyik di kota ini kok....
klik-klik aja di blog ini...komplit..
2. Jalur Alternatif dari Cirebon Menuju Jawa Tengah Disarankan sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah, anda beristirahat dulu di Cirebon...
Nah setelah istirahat secukupnya, silakan melanjutkan perjalanan anda.
Memang rute terpendek adalah daerah pantura melewati Kanci, Losari, Tanjung, Brebes, lalu Tegal. Namun jalur lainnya tak ada salahnya anda coba lewati terutama untuk anda yang menuju ke daerah Purwokerto dan tak ingin bermacet ria menghadapi pasar tumpah di tanjung dan brebes. Jalur alternatif ini adalah :
Cirebon-Kanci-Ciledug-Kersana-Ketanggungan-Prupuk-Bumiayu
Gimana, siap mudik ? Sudah anda cek kondisi kendaraan anda ?
Waspadalah dan selalu berhati-hati di jalan raya... dan jangan lupa sering-seringlah mengecek keadaan si kecil dalam gendongan..... Wokaayyy ???... Selamat Mudik....
Semoga selamat sampai tujuan dan Mohon Maaf Lahir Batin...
Rabu, 25 Agustus 2010
Gedung BAT Cirebon, Mau Dibawa Kemana ?
Minggu, 26 Juli 2009
Cirebon Panas Bangeeettt !...
Suhu udara di kota Cirebon memang tergolong tinggi untuk daerah Jawa Barat. Rata-rata berkisar 32 – 34 derajat Celcius. Banyak para pendatang warga Jakarta, yang telah terbiasa menahan gerah dan kepanasan saat bermacet ria, setiba di kota ini langsung berkomentar ‘Cirebon panas banget ya!’ Uff….Terlebih untuk masa April sampai dengan September..whoahh!
Andai saja pepohonan besar rindang berjajar manis di pinggir-pinggir jalan utama. Seperti di kota Medan (Jadi ingat enaknya jalan-jalan di Medan…adem!).
Gimana pingin jalan-jalan adem, lha coba deh hitung, berapa pohon yang bisa kita jumpai sepanjang Pasar Pagi hingga perempatan Winaon, dan belok kiri atau lurus ke Pasar Kanoman atau belok kanan ke arah Pasar Balong, dengan jarak 1-2 km yang bisa bikin kaki kram, gak ada pepohonan bro! Yang ada pertokoan. Poor my hometown!...Bisa sich kerasa adem…kalo mampir di supermarket..he…he...
Mata juga rasany sepet, gak ada kehijauan. Padahal warna hijau alami katanya baik bagi kesehatan mata.
Pertokoan, bukan pepohonan he…he..., memang telah rapat dan berderet sejak jaman aku kecil. Tapi seharusnya tetap ada ruang untuk tanaman. Misalnya di sepanjang trotoar dibuat jejeran pot untuk tanaman hias. Kenapa nggak ? Semuanya sich balik lagi ke niat ingsun.
Kudu niat ingsun dari para pemilik toko dan pemda, membuat ayem para pejalan kaki, dan para pengendara dapat merasakan sepoi-sepoi angin ketika melintasi jalanan kota yang sibuk. Hayuk, kita buat kota Cirebon hijau dari sekarang!...…
Rabu, 24 Juni 2009
Hotel di Cirebon
Soal bermalam di Cirebon adalah perkara mudah. Hotel di kota udang ini bertebaran,dari yang bertarif seratus ribu hingga enam digit nilai rupiah per malam!...Lihat di Jl. Kusnan tak jauh dari stasiun, ada hotel Mega, hotel mini yang didesain minimalis. Kelas standardnya relatif murah berkisar Rp.250.000,- per malam. Atau jika anda tak ingin jauh dari tempat shoping ada hotel Asia, dengan rate standard room berkisar Rp.350.000,- Meskipun letaknya dalam satu area dengan supermarket Asia dan dihimpit pertokoan lainnya, namun hotel ini memiliki juga failitas kolam renang khusus untuk para tamunya.
Ada lagi sich hotel yang letaknya di satu area dengan pertokoan, yaitu hotel Grage. Siapa yang tak tahu letak Grage Mall ? Nah hotelnya terletak di belakang area Mall ini, atau jika masuk dari jalan Kartini kita akan langsung menuju lobby hotel begitu memasuki area parkiran mall. Tarifnya jika dibanding beberapa hotel standard di Cirebon lumayan mahal, di atas Rp. 400.000,- Atau bila ingin layanan hotel berbintang, ada Puri Santika, Aston, Swiss Bell Hotel, dan yang teranyar Luxton. Siapa yang tak tahu ? Soal rate per malam jangan ditanya, service yang dicari.
Beberapa hotel di atas adalah yang aku rekomendasikan, karena tarif lumayan terjangkau dan servicenya berkategori cukup baik hingga memuaskan.
Jangan khawatir untuk para backpacker ada banyak penginapan semacam home stay, wisma, yang juga memiliki kondisi kamar yang bersih dengan tarif murmer dikisaran Rp. 250.000,- hingga Rp. 400.000,- per malamnya. Seperti Wisma Bahtera Jl. Cangkring 1 (recomended) . So...jangan ragu ke Cirebon !
Jangan khawatir untuk para backpacker ada banyak penginapan semacam home stay, wisma, yang juga memiliki kondisi kamar yang bersih dengan tarif murmer dikisaran Rp. 250.000,- hingga Rp. 400.000,- per malamnya. Seperti Wisma Bahtera Jl. Cangkring 1 (recomended) . So...jangan ragu ke Cirebon !
Minggu, 22 Maret 2009
Cirebon atau Grage
Cirebon atau Grage kerapkali disebut kota wali (Sunan Gunung Jati, satu dari sembilan wali songo, berasal dari sini....dan makamnya jadi salah satu tempat ziarah populer di Jawa), ho..ho..ada juga yang menyebut kota becak, sementara lainnya menyebut kota transit. Tapi kunjungi deh web Indonesia-Archipelago yang mengungkapkan," In Cirebon, present-day charm combines with a sense of the past ."
So sweet..... Penasaran ?
Menelusuri jalanan sibuk dan sesekali ada juga sedikit kemacetan (ah, tak lama kok...namanya juga kota kecil....) di pusat keramaian kota Cirebon, akan kita temukan kondisi lalu lintas yang berbeda dengan daerah lainnya. Becak bebas bersliweran, kadang saling berebut penumpang dengan angkutan kota roda empat. Tak ada kawasan bebas becak, malah di beberapa jalan dalam kota, becak merajai, dalam arti, di jalan dimana berlaku ketentuan satu arah untuk roda dua dan empat, tak berlaku bagi becak ! Tukang becak akan dengan santainya mengayuh becak melawan arus kendaraan bermotor. Huaaaww....penumpangnya yang seringkali menjerit ngeri...Weleeehh...It's Cirebon gitu loh....!
Ada baiknya, jelajahi pula jalanan kecil atau di Cirebon biasa disebut gang, karena di situlah sebenarnya jantung kota ini berdenyut. Nah, bila penasaran seperti apa keunikan masyarakat Cirebon, sambangi Kampung Panjunan, di tengah kepadatan pertokoan pusat kota. Warga etnis Arab, China, dan Pribumi Sunda-Jawa berasimilasi dengan harmonis. Perpaduan dari budaya yang berbeda antar etnis tersebut tercermin dalam hasil seni budayanya yaitu motif khas Cirebon-Mega Mendung-merupakan kombinasi gaya Persia, China, dan kaligrafi Islam (Arab). Wujud yang nyata tertera pada bangunan bersejarah di kota ini, seperti Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang dibangun tahun 1480, di kompleks keraton Kasepuhan, Masjid Merah di kampung Panjunan, dan kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati. Dinding bata merah yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa, berpadu manis dengan tempelan
So sweet..... Penasaran ?
Menelusuri jalanan sibuk dan sesekali ada juga sedikit kemacetan (ah, tak lama kok...namanya juga kota kecil....) di pusat keramaian kota Cirebon, akan kita temukan kondisi lalu lintas yang berbeda dengan daerah lainnya. Becak bebas bersliweran, kadang saling berebut penumpang dengan angkutan kota roda empat. Tak ada kawasan bebas becak, malah di beberapa jalan dalam kota, becak merajai, dalam arti, di jalan dimana berlaku ketentuan satu arah untuk roda dua dan empat, tak berlaku bagi becak ! Tukang becak akan dengan santainya mengayuh becak melawan arus kendaraan bermotor. Huaaaww....penumpangnya yang seringkali menjerit ngeri...Weleeehh...It's Cirebon gitu loh....!
Ada baiknya, jelajahi pula jalanan kecil atau di Cirebon biasa disebut gang, karena di situlah sebenarnya jantung kota ini berdenyut. Nah, bila penasaran seperti apa keunikan masyarakat Cirebon, sambangi Kampung Panjunan, di tengah kepadatan pertokoan pusat kota. Warga etnis Arab, China, dan Pribumi Sunda-Jawa berasimilasi dengan harmonis. Perpaduan dari budaya yang berbeda antar etnis tersebut tercermin dalam hasil seni budayanya yaitu motif khas Cirebon-Mega Mendung-merupakan kombinasi gaya Persia, China, dan kaligrafi Islam (Arab). Wujud yang nyata tertera pada bangunan bersejarah di kota ini, seperti Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang dibangun tahun 1480, di kompleks keraton Kasepuhan, Masjid Merah di kampung Panjunan, dan kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati. Dinding bata merah yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa, berpadu manis dengan tempelan
Minggu, 12 Oktober 2008
Grage, saat Lebaran...
Grage saat libur Lebaran?Ufff...along Ied Holiday kotaku jadi makin sumpek ! So crowded here...Yeah...sebagian besar warga Jakarta yang pingin mudik ke wilayah timur Jawa, lebih memilih lewat kotaku. Katanya sih...jalurnya lebih pendek ketimbang via jalur selatan. Tapi akibatnya bisa kebayang...mungkin tiga perempat penghuni Ibu Kota (tepatnya berapa sih gak jelas..he..he...coz kendaraan pemudik yang lewat sepertinya gak putus sejak seminggu sampe H-1 ! Wow...!), yang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, seringkali terjebak macet saat akan memasuki kotaku.
Naahh..tauk kan apa nama kotaku ? Exactly ! It's Cirebon...
Sekali dalam setahun Cirebon jadi pusat perhatian dan berita seantero negeri. Dan seluruh stasiun TV nasional berlomba menyajikan liputan dari seputar kota ini. Liputan arus mudik. Tentu...banyak hal yang kadang luput dari sorotan media...apa itu ??? Yuukkk..let's go the journey.....
Langganan:
Postingan (Atom)